Silent Carrier, Si Pembawa Penyakit yang Tidak Jatuh Sakit

Silent Carrier, Si Pembawa Penyakit yang Tidak Jatuh Sakit

Penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah dan meluas. Penyebaran ini terjadi selama masih banyak masyarakat yang melakukan aktivitas di luar rumah dan tidak memperhatikan social distancing. Atau mungkin juga karena adanya silent carrier corona.

Apa itu silent carrier?

 

Menurut Profesor Zubairi Djoerban, yang merupakan ketua satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, carrier pertama kali muncul pada tahun 1880. Awalnya istilah ini diberikan kepada seorang tukang masak perempuan di Amerika Serikat yang terlihat sehat tapi ternyata menderita tifoid. Akibatnya perempuan tersebut dapat menularkan tifoid kepada orang lain. Perlu Anda tahu, tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang tersebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Pasien tifoid akan mengalami gejala berupa demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, dan sembelit.

 

 

 

bahanya penyebaran covid-19 dari silent carrier

 

 

Ciri-ciri silent carrier

 

Pada kasus penyebaran Covid-19, silent carrier merupakan faktor yang membuat penyebaran virus sulit untuk dikendalikan. Sebab individu yang menjadi silent carrier tidak memiliki gejala dan merasa sehat. Sehingga masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Padahal dengan melakukan aktivitas inilah, silent carrier dapat menularkan penyakit pada orang lain sehingga virus menyebar tanpa bisa dikendalikan. Tetapi sebenarnya ada ciri-ciri yang menandakan bahwa seseorang menjadi silent carrier berikut ini:

 

1. Asimptomatik atau tanpa gejala

 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, silent carrier tidak menunjukkan gejala tertentu. Inilah yang membuat khawatir para petugas medis. Dalam penyebaran covid-19 di dunia, pasien tanpa gejala pertama kali diduga dari Taiwan. Penemuan ini dikonfirmasi oleh Badan Pengawas Epidemi Taiwan yang melaporkan kasus coronavirus pada 9 Februari yang lalu. Pasien tersebut diketahui melakukan perjalanan ke Italia melalui Hong Kong, dan kembali ke Taiwan.

 

Sayangnya kasus asimptomatik ini berkembang luas pada berbagai negara seperti Korea Selatan dan Jepang. Rata-rata pasien tanpa gejala ini hanya mengalami gejala selama 5 hari. Padahal virus covid-19 memerlukan masa inkubasi minimal selama dua minggu.

 

2. Sampel darah

 

Pasien yang terinfeksi tanpa gejala memang menyulitkan untuk proses deteksi penyebaran virus. Namun seseorang dapat diketahui terinfeksi atau tidak melalui sampel darah. Sebab pada beberapa pasien covid-19 yang tidak menunjukkan gejala memiliki viral load yang serupa dengan pasien yang memiliki gejala. Viral load merupakan kisaran jumlah partikel virus dalam jumlah RNA HIV per 1ml sampel darah. Penyebaran virus pun kemungkinan juga dari droplet (air liur) yang keluar pada saat berbicara, karena silent carrier tidak mengalami batuk.

 

3. Rata-rata menyerang orang dengan usia muda

 

Risiko asimptomatik bisa lebih tinggi pada orang yang masih berusia produktif. Sebab biasanya individu yang masih berusia muda tidak mudah menyadari gejala penyakit yang diderita. Sehingga dengan adanya anggapan bahwa dirinya lebih sehat malah menjadi sarana penularan virus bagi orang-orang di sekitarnya, terutama pada lansia.

 

4. Antibodi yang lemah

 

Setiap individu memiliki sistem kekebalan tubuh kompleks yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari penyakit menular. Agar berfungsi dengan baik, sistem kekebalan tubuh harus mampu mengenali pengganggu asing atau patogen seperti bakteri, virus, dan parasit.

 

Tetapi patogen dapat beradaptasi dengan cepat, sehingga terkadang dapat menghindari deteksi sistem kekebalan tubuh. Kondisi inilah yang membuat covid-19 dapat terinfeksi pada beberapa orang tetapi dengan gejala yang ringan atau sedang. Sehingga pasien tersebut dapat pulih lebih cepat tetapi ada kemungkinan telah menyebarkan virus kepada orang lain.

 

5. Kehilangan indera penciuman

 

Selain mengalami gejala demam, batuk kering, dan sesak napas, ternyata sekelompok dokter menemukan sejumlah pasien Covid-19 kehilangan indera penciuman dan rasa. Kondisi ini disebut dengan anosmia (hilangnya indera penciuman) dan ageusia (hilangnya indera perasa). American Academy of Otolaryngology juga menemukan gejala ini terjadi pada pasien yang dites positif Covid-19 asimptomatik.

 

Itulah informasi mengenai silent carrier. Untuk itu Anda perlu berhati-hati walaupun tetap merasa bugar. Lebih baik Anda mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing yang bermanfaat untuk memutuskan proses penyebaran virus. Jangan lupa untuk melakukan budaya hidup sehat seperti mencuci tangan, mengonsumsi makanan kaya nutrisi, berolahraga, dan mengonsumsi Truxanthin.

 

 

 

cegah covid-19 dengan suplemen antioksidan truxanthin

 

 

 

Suplemen Truxanthin terbuat dari sumber alami yang mengandung kombinasi antioksidan eksogen dan endogen sebagai perlindungan tubuh. Kandungan antioksidan ini juga dapat menurunkan stres oksidatif Dapatkan segera Truxanthin dengan mudah di sini. Yuk beli suplemen & vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh di KALBE Store. Sebab KALBE Store menjual suplemen makanan & vitamin dewasa terbaik online.

 

Salam,

 

KALBE Store

 

 

 

Sumber:

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200324133443-255-486436/mengenal-carrier-si-pembawa-penyakit-yang-tak-jatuh-sakit

https://www.liputan6.com/otomotif/read/4217106/5-tanda-anda-menjadi-silent-carrier-corona-covid-19