Osteoporosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Osteoporosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Banyak yang menganggap bahwa osteoporosis hanya bisa terjadi pada orang lanjut usia. Padahal penyakit osteoporosis dapat terjadi di usia dewasa muda, lho, Fams.

Jangan sampai lengah, kenali tanda dan gejala osteoporosis sejak dini supaya bisa lebih waspada.

Apa Itu Osteoporosis?

Penyakit osteoporosis adalah kondisi tulang yang rusak, keropos, dan mudah patah. Maka itu, kondisi ini sering kali disebut sebagai pengeroposan tulang. 

Pada awalnya, penyakit ini muncul tanpa gejala atau rasa sakit, sehingga penderitanya tidak akan menyadarinya sampai mereka mengalami patah tulang. Sebagian besar patah tulang terjadi di area pinggul, pergelangan tangan dan tulang belakang.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penyakit pengeroposan tulang ini lebih banyak terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki. Sementara itu, untuk rentang usia yang paling banyak mengalami osteoporosis adalah usia 50-80 tahun.

Meski begitu, menurut John Hopskin Medicine, kondisi ini mungkin saja menyerang orang yang berusia 20 tahun. Hal ini tergantung dengan faktor risiko masing-masing orang.

Penyebab Osteoporosis

Penyebab osteoporosis yang utama adalah perubahan struktur jaringan tulang dan terlalu banyak kehilangan massa tulang. 

Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan peningkatan seseorang mengalami kondisi ini, serta memperparah perkembangan osteoporosis bagi penderitanya.

Ada beberapa faktor risiko yang tidak dapat diubah, dan faktor lainnya yang dapat diubah. Namun, dengan memahami faktor-faktor ini, Anda mungkin dapat mencegah terjadinya kondisi ini.

osteoporosis

Faktor penyebab yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis sebagai berikut ini.

1. Jenis kelamin

Kondisi pengeroposan tulang ini lebih tinggi risikonya pada perempuan.

Perempuan mengalami banyak perubahan hormon ketika menopause. Penurunan hormon estrogen saat menopause dapat menyebabkan tulang keropos.

Meski begitu, laki-laki tetap berisiko mengalami kondisi ini. Laki-laki yang berusia di atas  70 tahun berisiko tinggi untuk terkena pengeroposan tulang.

2. Usia

Seiring bertambahnya usia, pengeroposan tulang terjadi lebih cepat, dan pertumbuhan tulang baru memproduksi lebih lambat.

3. Ukuran tubuh

Wanita dan pria yang ramping dan bertulang tipis memiliki risiko lebih besar terkena osteoporosis.

4. Etnis

Orang Asia, dan orang-orang berkulit putih memiliki risiko mengalami osteoporosis lebih tinggi daripada etnis lainnya.

5. Riwayat penyakit keluarga

Memiliki anggota keluarga dengan kondisi osteoporosis.

6. Diet

Melakukan diet dengan asupan kalsium yang sedikit, sehingga tidak mencukupi kebutuhan tubuh.

7. Kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat

Beberapa kebiasaan yang dapat menjadi faktor penyebab osteoporosis yaitu:

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu. 
  • Jarang olahraga
  • Mengonsumsi alkohol.
  • Merokok.

8. Mengalami kondisi kesehatan lainnya

Salah satu kondisi kesehatan seperti gangguan tiroid dapat menyebabkan osteoporosis akibat hormon tiroid yang berlebih. 

Baca juga: 4 Buah yang Baik Untuk Sehatkan Tulang

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis adalah salah satu penyakit yang jarang menimbulkan gejala di awal kondisi.

Namun, ada beberapa gejala yang bisa Anda waspadai sebagai tanda penyakit osteoporosis:

  • Kehilangan tinggi badan (tubuh yang semakin pendek).
  • Perubahan postur (postur yang membungkuk).
  • Sesak napas.
  • Fraktur tulang.
  • Nyeri di punggung bawah.

Jika Anda mengalami beragam gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter agar mendapat penanganan medis yang tepat.

Diagnosis Osteoporosis

Dalam menentukan apakah Anda mengalami penyakit osteoporosis atau tidak, dokter biasanya akan melakukan beberapa skrining awal.

Dokter akan memeriksa riwayat medis pasien dengan wawancara. Jika dari wawancara tersebut terdeteksi ada faktor risiko osteoporosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

osteoporosis

Menurut American Family Physician, ada beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis osteoporosis yang biasanya dilakukan, yaitu:

1. Tes kepadatan tulang

Tes kepadatan tulang bersifat non invasif dan dapat mengukur konsentrasi mineral di tulang pinggul, tulang belakang, dan terkadang di lengan bawah.

Dokter akan menentukan hasil pemeriksaan Anda apakah memiliki kepadatan tulang yang rendah dan mengidap osteoporosis.

Menurut National Osteoporosis Foundation, tes kepadatan tulang ini sebaiknya dilakukan secara berkala apalagi jika Anda mengalami kondisi berikut:

  • perempuan yang berusia 65 tahun atau lebih
  • laki-laki yang berusia 70 tahun atau lebih
  • mengalami patah tulang tiba-tiba di usia 50 tahun atau lebih
  • perempuan yang masuk masa menopause
  • hasil pengukuran tinggi badan berubah menjadi lebih pendek dari biasanya
  • mengalami sakit punggung

2. Tes darah dan urin

Kondisi pengeroposan tulang juga bisa dideteksi dari hasil tes darah. Umumnya, untuk mendiagnosis kondisi ini, ada beberapa tes darah dan urin yang dapat dilakukan, seperti:

  • tes kadar kalsium darah
  • tes alkali darah
  • tes tiroid dan paratiroid

Sebaiknya konsultasi dulu ke dokter sebelum menjalani pemeriksaan medis tersebut. Dengan begitu, dokter akan menyesuaikan pemeriksaan yang harus dilakukan dengan kondisi kesehatan Anda.

Pengobatan Osteoporosis

Tujuan pengobatan osteoporosis adalah untuk memperlambat atau menghentikan pengeroposan tulang dan mencegah patah tulang terjadi.

osteoporosis

Dalam mengatasi osteoporosis, Anda dapat mencoba beberapa cara sebagai berikut:

Komplikasi Osteoporosis

Mengalami patah tulang, terutama pada tulang belakang atau pinggul, adalah komplikasi osteoporosis yang paling serius. Kondisi tersebut biasa dikenal sebagai fraktur patologis

Penyebab patah tulang pinggul sering diakibatkan karena terjatuh. Hal tersebut dapat menyebabkan kecacatan dan peningkatan risiko kematian pada penderitanya.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi Sejak Dini

Pencegahan Osteoporosis

Semakin bertambahnya usia, semakin besar risiko pengeroposan tulang. Anda bisa melakukan beberapa tips berikut untuk mencegah osteoporosis

1. Makan sumber kalsium dan vitamin D

Untuk mempertahankan tulang kuat dan sehat, Anda perlu makan makanan kaya kalsium dan vitamin D. Makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti ikan salmon, sarden, kangkung, brokoli, jus, dan susu.

Penting juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Vitamin ini dapat membantu kalsium memaksimalkan pertumbuhan tulang.

Nah, sumber utama vitamin D adalah sinar matahari. Anda bisa berjemur selama 10-15 menit setiap pagi untuk mendapatkan vitamin D.

Tak hanya itu, Anda dapat mengonsumsi beberapa sumber vitamin D juga, seperti hati ayam, kuning telur, dan minyak ikan.

Supaya lebih mudah, Anda juga bisa mengonsumsi suplemen dan multivitamin yang mengandung kedua mineral tersebut.

2. Minum susu khusus 

Minum susu khusus yang mengandung kalsium tinggi dan beragam mineral lainnya juga dapat membantu Anda terhindar dari penyakit pengeroposan tulang.

Salah satu susu yang bisa Anda coba yaitu Entrasol. Susu Entrasol tak hanya mengandung kalsium tinggi, tapi juga kaya akan vitamin D dan magnesium.

Susu ini cocok untuk Anda yang produktif setiap hari, karena memiliki kandungan antioksidan tinggi sehingga dapat menangkal beragam radikal bebas.

3. Olahraga rutin

Mempertahankan gaya hidup sehat dapat mengurangi tingkat pengeroposan tulang. Anda dapat melakukan berbagai latihan yang membuat otot bekerja seperti, berjalan, jogging, aerobik, dan berenang. 

Bahkan ternyata, olahraga angkat beban terbukti dapat meningkatkan kepadatan tulang, lho, Fams.

Jika Anda baru mau mulai kebiasaan berolahraga, Anda bisa mencoba latihan fisik yang mudah dulu. Misalnya saja jogging di sekitar rumah selama 30 menit per hari.

Anda juga bisa melakukan gerakan-gerakan peregangan di rumah, misalnya squat atau sit-up. Dengan begitu, otot tubuh selalu terlatih.

4. Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol

Kafein dan alkohol terbukti dapat mempercepat pengeroposan tulang. Maka itu, mulai sekaranga jangan mengonsumsi kafein dan alkohol terlalu sering, ya, Fams.

Sebagai gantinya, Anda bisa minum jus buah yang tinggi nutrisi. Namun ingat, jangan menggunakan gula terlalu banyak di dalam jus buah.

 

Direview oleh: dr. Isman Sandira

Penulis: Nurul Ahmad | Editor: Nimas Mita

 

Sumber: