Penyakit Hati Non Alkohol, Epidemi Baru di Abad 21


Penyakit Hati Non Alkohol, Epidemi Baru di Abad 21

Penyakit Hati Non Alkohol, Epidemi Baru di Abad 21

Penyakit hati non-alkohol terutama perlemakan hati berkembang dikarenakan adanya peningkatan pada berat badan atau kejadian kegemukan. Jika lebih dari 5.8% lemak tertumpuk dalam jaringan hati makan akan terjadi perlemakan hati non-alkoholik. Kondisi tersebut jika terjadi peradangan untuk menghilangkan lemak makan disebut dengan steatohepatitis atau sering disebut NASH (non-alkoholik steatohepatitis). NASH inilah yang akan berlanjut menjadi fibrosis dan sirosis hati ataupun karsinoma hepatoseluler yang berujung terjadinya gagal hati.

 

banyaknya temuan kasus penyakit hati non alkohol pada abad 21

 

Obesitas juga memicu terjadinya pengendapan lemak di otot yang akan meningkatkan resistensi insulin. Oleh karena hal itulah pengobatan lini pertama pada perlemakan hati tentunya adalah penurunan berat badan melalui diet dan olahraga dan kontrol diabetes, jika ada. Obesitas, NAFLD (nonalcoholic fatty liver disease), dan resistensi insulin masing-masing secara independen terkait dengan risiko dua kali lipat untuk diabetes. Jika ketiganya hadir, ada risiko 14 kali lipat untuk diabetes. Resistensi insulin mendorong peningkatan lalu lintas asam lemak bebas ke hati, yang dapat memicu lipotoksisitas hati. Hiperinsulinemia meningkatkan penyerapan asam lemak bebas dan mengaktifkan lipogenesis de novo. Hiperglikemia juga dapat mengaktifkan lipogenesis de novo.

Di Amerika sekitar 85 juta orang memiliki NAFLD. Sebagian besar (80%) adalah kasus steatosis, tetapi 20% memiliki NASH. Dari mereka, 20% berkembang menjadi  fibrosis lanjut, yang mengarah pada gagal hati yang perlu transplantasi atau terjadi kematian. Sebuah studi data dari National Health and Nutrition Examination Survey menemukan bahwa diabetes adalah prediktor terkuat dari fibrosis lanjut pada pasien dengan NAFLD (rasio odds, 18,20), diikuti oleh indeks massa tubuh 30 kg/m2 atau lebih (OR, 9,10 ), hipertensi (OR, 1,20), dan usia (OR, 1,08).

Pasien dengan diabetes tipe 2 dan NAFLD berkembang lebih cepat menjadi fibrosis dan penyakit hati stadium akhir, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki diabetes. Satu studi dari 108 pasien dengan NAFLD terbukti biopsi menunjukkan bahwa 84% dari mereka dengan perkembangan fibrosis memiliki diabetes tipe 2.

Temuan lain menunjukkan bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 berada pada peningkatan risiko NAFLD kronis dan karsinoma hepatoseluler, dan orang dengan NAFLD berisiko menderita dan mati akibat CVD (cerebrovascular disease). Semakin lanjut NAFLD, semakin tinggi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Makan dari itu, penting sekali menjaga berat badan agar tetap ideal supaya tidak mengalami obesitas. Bila perlu, Anda juga dapat mengonsumsi suplemen khusus untuk menjaga kesehatan fungsi organ hati seperti Hepamax. Hepamax juga dapat membantu untuk menormalkan kadar SGOT dan SGPT di dalam hati. Anda bisa dapatkan suplemen hati Hepamax dengan mudah di sini.

 

cegah perlemakan hati non alkoholik dengan mengonsumsi Suplemen Hepamax

 

Salam,

KALCare

 

 

 

Sumber:

Referensi: Doug Brunk. Nonalcoholic Liver Disease ‘an Epidemic of the 21st Century’. (Internet; Cited: 24/2/2020). Available: https://www.medscape.com/viewarticle/924818