Pengaruh Pola Asuh “Child Shaming” Terhadap Psikologi Anak

Pengaruh Pola Asuh “Child Shaming” Terhadap Psikologi Anak

Apakah Anda pernah mendengar kata “child shaming”? Sesuai dengan terjemahan harfiah dalam bahasa Indonesia, child shaming merupakan tindakan yang mempermalukan anak. Ternyata, tindakan mempermalukan anak ini tidak hanya kerap dilakukan oleh teman sebaya, tetapi juga orang tua bahkan diterapkan sebagai pola asuh anak.

 

Menjelang peringatan Hari Anak Sedunia, penting sekali untuk menilai kembali apakah pola asuh yang orang tua lakukan selama ini sudah benar. Sebab pola asuh yang kerap dibumbui dengan child shaming dapat berdampak buruk bagi psikologi anak lho. Maka dari itu, yuk simak ulasan child shaming selengkapnya di sini!

 

Dampak buruk child shaming

 

Memang child shaming oleh orang tua biasanya dapat dilakukan secara sengaja ataupun tidak. Child shaming yang sengaja dapat berupa pola asuh orang tua yang dianggap benar, padahal sebenarnya salah. Walaupun berbeda dengan bullying, child shaming juga memiliki dampak buruk bagi psikologi anak.

 

Memang tiap anak memiliki efek masing-masing saat menerima child shaming. Namun pada umumnya, child shaming akan membuat anak kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, bahkan membenci orangtuanya. Namun dampak buruk ini tergantung juga pada intensitas dan frekuensi perlakuan tersebut terhadap anak.

 

Perlakuan child shaming yang tidak disadari

 

Perlakuan child shaming yang disengaja biasanya dilakukan dengan tujuan menghukum. Contohnya memberitahukan kebiasaan buruk anak kepada teman-temannya dengan harapan dapat mengubah kebiasaan buruknya. Sedangkan tindakan child shaming yang tidak disengaja ternyata sering dilakukan oleh orang tua tanpa sadar. Untuk mencegahnya, Anda perlu tahu tindakan apa saja yang termasuk dalam child shaming berikut ini.

 

 

 

pola asuh yang salah bisa sebabkan child shaming

 

 

 

1. Menerapkan kedisiplinan publik

 

Terkadang orang tua melakukan kesalahan dalam mendidik kedisiplinan anak. Tanpa disadari orang tua melakukan child shaming kepada anaknya sendiri. Contohnya pada saat anak melakukan kesalahan di tempat umum, orang tua kemudian memarahinya di depan orang banyak. Hal ini tentu akan sangat mempermalukan anak. Apalagi jika orang tua sudah tidak bisa mengendalikan emosi hingga terjadi kekerasan verbal atau fisik pada anak.

 

Jika dilakukan secara terus-menerus, perlakuan ini dapat memberikan dampak yang fatal bahkan membuat anak menjadi trauma. Cara yang baik sebenarnya mengajak anak untuk berbicara empat mata. Dengarkan pengakuan dari Si Kecil, lalu beri tahu hal yang benar dengan lembut namun tegas agar anak tahu mengenai kesalahan yang telah diperbuatnya.

 

2. Tidak menghargai keinginan anak

 

Terkadang orang tua suka sekali memaksakan keinginannya pada anak. Sehingga secara tidak sadar, orang tua mengabaikan keinginan dari anak itu sendiri. Bahkan ada beberapa yang menganggap remeh keinginan anaknya. Misalnya, saat orang tua terbiasa membelikan mainan di mall, tetapi kemudian anak meminta mainan di pinggir jalan karena sedang tren di kalangan teman-temannya. Bukannya memberi pengertian, orang tua malah langsung meremehkan pilihan mainan anak. Kondisi ini akan menyebabkan anak menjadi malu pada dirinya sendiri, tertekan dan takut, sehingga tidak belajar dari pengalaman.

 

Sebaiknya sebagai orang tua, jangan langsung mengejek atau menolak pilihan anak secara langsung. Sebab sejatinya anak memiliki perspektif dalam memilih yang mungkin bisa diterima atau diarahkan.

 

3. Menetapkan target tinggi

 

Child shaming yang satu ini memang sering dilakukan oleh orang tua secara tidak sadar. Sebab masih banyak orang tua yang menetapkan target khusus bagi anak. Misalnya menginginkan anaknya menjadi juara kelas atau menuntut anak memiliki banyak talenta atau kemampuan tertentu.

 

Target yang ditetapkan ini secara tidak sengaja akan memberikan beban tersendiri bagi anak. Sehingga saat tidak tercapai, anak dapat merasa gagal, berkecil hati, hingga malu terhadap diri sendiri. Cobalah untuk menurunkan ekspektasi yang tinggi kepada anak. Sesuaikan harapan Anda dengan usia dan kemampuan anak.

 

4. Melarang untuk menangis

 

Laki-laki selalu diibaratkan sebagai pribadi yang kuat, berani, dan mandiri. Tidak jarang orang tua menetapkan stigma tersebut sejak usia dini, bahkan dengan melarang anak laki-laki menangis. Sebaiknya hindari memberi larangan pada anak laki-laki untuk menangis ya.

 

Sebenarnya baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki emosi yang sebaiknya tidak ditahan. Jika larangan menangis pada anak dibiasakan, suatu saat emosi yang ditahan akan dapat membuatnya “meledak” sehingga menjadi tidak terkendali. Atau kebiasaan ini bisa membuat anak berpikir bahwa menangis merupakan hal yang tidak pantas untuk dilakukan.

 

Mengatasi child shaming

 

Untuk mengatasi child shaming, memang orang tua perlu melakukan penilaian ulang sebelum melakukan tindakan dan perbuatan tertentu. Selain itu, saat Anda mempermalukan anak tanpa sengaja, jangan malu untuk meminta maaf. Anda sebagai orang tua juga perlu melakukan komunikasi intens dengan anak. Hal ini dilakukan agar Anda dapat memahami keinginan anak serta mampu mencari cara untuk mendukung keinginannya.

 

Selain dukungan psikis, jangan lupa dengan memberikan dukungan melalui nutrisi dengan susu Morinaga Chil School Platinum Moricare Zigma. Dengan nutrisi AA DHA dan Kolin dari Morinaga Chil School Platinum, akan membantu meningkatkan daya tangkap serta daya ingat Si Kecil. Sehingga anak akan lebih mudah dalam menangkap masukan dari Anda, serta dapat melakukan elaborasi sesuai keinginannya.

 

 

 

bantu didik anak dengan nutrisi penting dari Morinaga Chil School Platinum Moricare Zigma

 

 

 

Untuk mendapatkan Morinaga Chil School Platinum Moricare Zigma, Anda juga bisa mendapatkannya di KALCare lho. Sebab KALCare menjual susu formula terbaik dan susu pertumbuhan anak dari Morinaga. Jadi tunggu apa lagi? Segera berlangganan susu Morinaga di KALBE Store. Nikmati juga promo susu formula anak terbaik dan susu pertumbuhan anak di sini.

 

Salam,

 

KACare

 

Sumber:

Popmama.com

Theasianparent.com

Dream.co.id