Krisis Kesehatan Mental di Masa Pandemi


Krisis Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Krisis Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Penyebaran covid-19 hampir di seluruh Negara tidak hanya memberikan dampak buruk bagi kesehatan jasmani saja lho Fams. Tetapi juga memengaruhi kesehatan jiwa. Bahkan menurut Direktur Departemen Kesehatan Mental, Organisasi kesehatan Dunia, Devora Kestel kebanyakan masyarakat mengalami krisis kesehatan mental.

 

Pengertian kesehatan mental

 

Kesehatan mental merupakan tingkat kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan, dan memberikan atau meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian serta perilaku seseorang. Kesehatan mental yang terganggu akan menyebabkan gangguan mental atau penyakit mental. Akibat gangguan atau penyakit mental, seseorang akan mengubah atau melakukan cara tertentu dalam menangani stres, relasi sosial, serta mengambil keputusan. Beberapa jenis gangguan mental yang umumnya terjadi di masyarakat berupa depresi, gangguan bipolar, kecemasan, serta gangguan stres pasca trauma (PTSD).

 

pentingnya kesehatan mental selama pandemi

 

Peningkatan gangguan atau penyakit mental di tengah kondisi pandemik bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena penyakit, kematian, isolasi, pembatasan sosial, hingga kemiskinan yang membayangi masyarakat sehingga menjadi penyebab munculnya rasa cemas di masyarakat. Tekanan-tekanan yang dirasakan oleh masyarakat inilah yang semakin memperburuk kesehatan mental masyarakat. Bahkan dari hasil survey daring kesehatan jiwa, melalui swaperiksa yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, sebanyak 64,3 persen dari 1.522 responden yang mengalami cemas dan depresi akibat pandemi. Sedangkan trauma psikologis dialami oleh 80 persen dari semua responden yang melakukan swaperiksa.

 

Secara rinci, ada beberapa faktor yang memengaruhi peningkatan kecemasan pada masyarakat. Misalnya rasa khawatir akan penularan covid pada diri sendiri ataupun keluarga dan kerabat. Lalu merasa khawatir mengalami pemutusan kerja akibat adanya penurunan ekonomi. Hingga merasa bosan dan stres karena tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan keluarga, kerabat, dan teman akibat penerapan pembatasan sosial di beberapa daerah.

 

Golongan yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental

 

Merasa khawatir, stres, hingga depresi selama pandemi memang dialami oleh hampir semua kalangan usia dan profesi. Namun berdasarkan hasil dari beberapa penelitian, stres dan depresi lebih banyak dialami oleh orang muda, perempuan dewasa, dan tenaga medis. Tetapi bukan berarti, golongan usia lain seperti anak-anak tidak mengalami stres selama pandemi.

 

Rata-rata anak muda mengalami stres akibat penerapan lockdown yang mempengaruhi suasana hati. Penyebaran virus dan penerapan lockdown memunculkan ketakutan orang muda akan sulitnya mendapat pekerjaan atau menganggur. Begitu juga dengan kegiatan pendidikan pada perguruan tinggi yang saat ini berada dalam kondisi yang tidak pasti karena penyebaran virus yang masih tinggi di beberapa daerah. Kedua kondisi ini membatasi kemampuan orang muda untuk mandiri, karena terpaksa menghabiskan waktu lebih banyak di rumah bersama orang tua dan keluarga. Faktor lain yang memberikan dampak stres dan depresi pada orang muda adalah keterbatasan dalam bersosialisasi. Apalagi bagi individu yang terbiasa aktif dan bergabung dalam kegiatan rutin yang dijalani.

 

Pada perempuan, stres dan depresi selama pandemi rentan terjadi akibat hormon yang labil. Ditambah, perempuan memiliki kecenderungan lebih berpikir dibandingkan dengan laki-laki. Pada tenaga kesehatan, gangguan kesehatan mental disebabkan oleh meningkatnya tanggung jawab dalam merawat pasien positif serta ketakutan akan penularan akibat tuntutan pekerjaan di fasilitas kesehatan.

 

Upaya penanggulangan krisis kesehatan mental

 

WHO melalui Devora Kestel mengingatkan Pemerintah dari tiap Negara perlu melakukan pertimbangan mengenai kebijakan-kebijakan sesuai dengan kondisi yang terjadi. Dengan begitu diharapkan dapat mengurangi penderitaan masyarakat akan kekhawatiran dalam mempertahankan hidup. Selain itu penting juga penyediaan layanan psikologis dan kesehatan mental darurat selama masa pandemi.

 

Tiap individu juga perlu melakukan upaya manajemen stres. Sehingga kekhawatiran yang dialami tidak berkepanjangan hingga menyebabkan depresi yang memicu perbuatan negatif seperti bunuh diri. Yuk, jaga kesehatan fisik dan mental. Jika perlu, Anda dapat mengonsumsi Blackmores Executive-B yang merupakan suplemen dengan kombinasi bahan-bahan yang bermanfaat saat Anda merasakan stres berkelanjutan. Dapatkan Blackmores Executive-B dengan mudah di sini.

 

jaga kesehatan mental dengan Blackmores Executive B

 

Salam,

KALCare

 

 

 

Sumber:

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/15/135714920/who-peringatkan-krisis-gangguan-mental-global-akibat-pandemi

https://republika.co.id/berita/qdct00382/penelitian-anak-muda-berisiko-depresi-saat-pandemi

https://tirto.id/studi-sebut-depresi-stres-cemas-berlebihan-melonjak-saat-pandemi-fUor