Kenapa IDI Mengatakan Rapid Test Palsu?


Kenapa IDI Mengatakan Rapid Test Palsu?

Kenapa IDI Mengatakan Rapid Test Palsu?

Belum lama ini publik dikejutkan dengan pernyataan dari Humas Ikatan Dokter Indonesia atau IDI Makassar, dr Wachyudi Muchsin mengenai rapid test. Menurutnya, rapid test merupakan alat palsu untuk mendapatkan hasil mengenai positif covid-19. Bahkan Ia melanjutkan bahwa rapid test bukan merupakan alat yang direkomendasi oleh IDI untuk mengetahui status positif covid-19.

 

Pernyataan dari dr Wachyudi ini menanggapi pilihan Pejabat (PJ) Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin yang hanya melakukan rapid test setelah melakukan kontak dengan ketua KPU RI Arief Budiman. Padahal Ketua KPU RI telah dinyatakan positif covid-19. Sikap yang dilakukan oleh PJ Wali Kota Makassar dianggap tidak memberikan contoh baik bagi masyarakat. Padahal seharusnya tokoh publik dapat peka dan memahami situasi pandemi yang terjadi sekarang ini.

 

Kenapa rapid test dinyatakan palsu?

 

akurasi rapid test terhadap deteksi covid

 

Menurut dr. Wachyudi, rapid test selama ini tidak bisa dijadikan acuan untuk menentukan seseorang dinyatakan positif atau negatif covid-19. Sehingga langkah yang diambil oleh PJ Wali Kota dianggap tidak sesuai. Karena seharusnya, seseorang yang telah melakukan kontak langsung dengan pasien yang dikonfirmasi positif covid-19 harus melakukan isolasi mandiri dan melakukan swab test. Walaupun hasil swab test masih harus menunggu beberapa hari, orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di rumah. Ini penting karena dapat membantu dalam memutuskan potensi penyebaran virus kepada orang di sekitarnya agar tidak semakin meluas.

 

Akurasi hasil positif atau negatif covid dari rapid test lah yang dianggap palsu oleh dr. Wachyudi. Sehingga kata palsu tidak merujuk pada alat tesnya. Rapid test hanya sekadar pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring. Maka rapid test tidak dapat dikategorikan sebagai test untuk pemeriksaan penegakan diagnosa infeksi virus covid-19. Sedangkan swab test dan PCR dapat dijadikan sebagai test pemeriksaan penegakan diagnosa infeksi covid-19 karena sudah termasuk dalam gold standard.

 

Lebih lanjut, rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona. Maka dari itu, rapid test tidak dapat mendeteksi keberadaan virus corona. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan polymerase chain reaction atau PCR, karena bisa mendeteksi langsung keberadaan corona virus. Bukan dengan menjalankan tes yang hanya mendeteksi adanya antibodi untuk menghadapi virus seperti rapid test.

 

dr . Wachyudi juga menghimbau masyarakat agar paham mengenai tes untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh. Karena tidak semua tes yang dilakukan dapat menjadi tolok ukur seseorang terpapar virus covid-19 atau tidak, seperti rapid test. Maka masyarakat yang merasa melakukan kontak langsung dengan pasien positif covid dapat melakukan swab test atau PCR.

 

Jadi Fams sudah paham perbedaan test untuk mendeteksi covid? Memang ada baiknya jika Anda mencegah penularan covid dengan menjaga daya tahan tubuh. Maka dari itu, Anda perlu mengonsumsi H2 Shark Liver Oil yang merupakan suplemen kesehatan untuk menjaga daya tahan tubuh. Anda bisa mendapatkan suplemen H2 Shark Liver Oil dengan mudah di sini ya Fams. Jangan lupa juga untuk tetap menggunakan masker sesuai dengan ketentuan, rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, serta mengonsumsi nutrisi kesehatan yang dijual oleh KALCare E-Store.

 

cegah penyebaran covid dengan suplemen H2 Shark Liver Oil

 

Salam,

KALCare

 

Sumber:

https://makassar.kompas.com/read/2020/09/22/19311731/hasil-rapid-test-positif-maupun-negatif-itu-semua-palsu-dan-alat-itu-bukan?page=all

https://regional.kompas.com/read/2020/09/24/14551931/viral-pernyataan-hasil-rapid-test-positif-atau-negatif-palsu-idi-makassar?page=all