Bahan Kimia yang Mengancam Keselamatan Ibu Hamil

Bahan Kimia yang Mengancam Keselamatan Ibu Hamil

Larangan merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol mungkin sudah cukup akrab di telinga calon ibu. Kedua zat adiktif tersebut memang terbukti dapat mengganggu dan membahayakan kehamilan. Namun, apakah dengan menghindari keduanya saja sudah cukup? Atau, sebenarnya ada banyak bahan kimia lain yang juga berbahaya bagi calon ibu dan juga janin di dalam kandungannya?

 

Berikut ini kami ulas beberapa zat kimia yang disinyalir dapat membahayakan calon ibu dan kandungannya. Mari disimak!

 

Bahan Kimia yang Mengancam Keselamatan Ibu Hamil

> Cat semprot, seperti Pylox, atau bahan-bahan lainnya yang mengandung thinner. Sebisa mungkin, kurangi penggunaan bahan-bahan ini, atau jika memungkinkan Anda bisa menggantinya dengan cat lateks yang lebih aman untuk kandungan Anda.

 

 

> Bisphenol-A atau BPA. Zat kimia yang satu ini lazim digunakan untuk pembuatan produk plastik atau resin epoksifenolat sejak tahun 1950-an, termasuk untuk memproduksi botol susu bayi, wadah minuman dari plastik, peralatan olahraga, dan lainnya. Sebuah laporan dari Badan Pengawas Makanan dan Obat dari Amerika Serikat (FDA) di tahun 2010 memperingatkan akan bahaya BPA terhadap janin, bayi, dan anak-anak.

 

Gejala yang diyakini dapat ditimbulkan oleh senyawa ini termasuk obesitas, gangguan otak dan fungsi tiroid, kanker, penyakit jantung, penurunan produksi sperma dan kekebalan tubuh, serta pubertas dini. Sejak saat itu, beberapa negara Uni-Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada mulai mengklasifikasi BPA sebagai zat beracun, dan memberlakukan larangan perederan botol susu dan peralatan makan anak yang mengandung BPA.

 

 

> Phthalates. Zat ini banyak ditemukan pada produk rumah tangga yang berbau harum, seperti pengharum ruangan, dan sabun cuci piring. Konsumen seringkali terkecoh, karena pada kemasan produk jarang tercantum tulisan ‘phthalates’ di bagian komposisinya, namun jika Anda melihat kata ‘fragrance‘ dalam daftar kandungan zat, besar kemungkinan produk tersebut mengandung phthalates. Zat ini juga biasa ditemukan pada bahan penambal gigi, dan merupakan zat yang dilepaskan oleh produk plastik saat dipanasi dalam oven microwave. Zat kimia ini disinyalir dapat menggangu kinerja kelenjar endokrin, serta pada pria dapat menyebabkan penurunan produksi sperma.

 

 

> Fluorotelomers. Zat kimia ini biasa digunakan untuk melapisi kantong popcorn yang bisa dipanaskan di dalam microwave, serta juga dapat ditemukan pada beberapa jenis karpet dan furniture. Disinyalir, selama proses pemanasan di dalam microwave, fluorotelomers akan berubah menjadi asam perfluoro oktanoat (Perfluorooctanoic acid/PFOA), lalu bermigrasi dan menyatu dengan minyak di dalam berondong jagung. Asam ini bersifat karsinogen, atau memicu timbulnya kanker.

 

Ancaman bahaya paling tinggi terdapat pada uap yang mengepul keluar segera setelah berondong jagung dimatangkan di microwave. Untuk menghindarinya, sebaiknya Anda membuka kemasan berondong jagung setelah ia mendingin – atau, lebih baik lagi, jika Anda dapat menghindari konsumsi popcorn, setidaknya selama Anda mengandung.

 

 

> Polychlorinated biphenyls (PCB). Zat kimia ini biasanya ditemukan pada ikan yang hidup di lingkungan air yang tercemar. Di Indonesia, khususnya, bahaya yang ditimbulkan zat ini masih sangat kurang diinformasikan, padahal zat ini bersifat mutagenik, atau dapat memicu kanker, dengan cara mengganggu fungsi kerja hormon, termasuk dapat mengganggu fungsi kerja hormon estrogen, sehingga dapat memicu timbulnya kanker payudara, serviks dan uterus.

Lebih jauh lagi, PCB dapat ditransfer ibu kepada anaknya selama proses menyusui. Mengapa ini sangat berbahaya? Karena, bahkan dalam dosis yang sangat kecil sekalipun, PCB dapat meningkatkan kadar dopamine, dan mengganggu fungsi SSP (staurosporine) terutama pada anak laki-laki.

 

 

Masih ada beberapa zat kimia lainnya yang juga dapat mengganggu kehamilan dan janin. Simak kelanjutan dari artikel ini di sini.

 

 

Salam,

KALCare