Awas! Risiko Obesitas Anak Semakin Meninggi

Awas! Risiko Obesitas Anak Semakin Meninggi

Ayah dan ibu, jangan abaikan kondisi obesitas anak, ya. Kondisi yang saat ini semakin banyak menghinggapi buah hati di seluruh belahan dunia ini merupakan salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes tipe-2, penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

Selain itu, obesitas anak juga dapat menyebabkan kedewasaan yang lebih cepat (khususnya pada anak perempuan), siklus mentruasi yang tidak teratur, serta permasalahan kesuburan saat ia memasuki usia dewasa.

 

Tak hanya masalah fisik, obesitas anak pun dapat menimbulkan masalah psikologis, seperti anoreksia, bulimia, hingga depresi akibat pandangan negatif dari lingkungan sekitarnya, lho. Tentunya, ini merupakan kekhawatiran yang sebaiknya tidak disepelekan, bukan?   Mencegah obesitas jauh lebih baik – dan lebih mudah – dibandingkan dengan menyembuhkannya, karena begitu anak menjadi obes, maka akan sulit baginya untuk mengurangi berat badannya, dan mencapai ukuran normalnya kembali. Oleh karena itu, Anda perlu memperhatikan faktor-faktor penyebab obesitas, seperti gaya hidup, faktor genetik, serta kombinasi dari keduanya.

 

Selain itu, proses penyembuhan dan obat-obatan pun dapat mempengaruhi penambahan berat badan anak. Namun, sebagian besar obesitas terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang banyak bergerak, dan hanya menghabiskan waktu luang dengan menonton TV atau bermain alat elektronik lainnya. The American Journal of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak-anak menghabiskan waktu maksimal 1-2 jam saja di depan layar, dan memperbanyak kegiatan fisik di waktu luangnya.

 

Sebaiknya, sejak lahir hingga ia mencapai usia 1 tahun, anak diberikan ASI eksklusif sebagai makanan utamanya. Saat ia berusia 1-5 tahun, ajarkan ia untuk kebiasaan-kebiasaan sehat, seperti olahraga, bermain di luar ruangan, dan mengonsumsi variasi makanan yang bergizi. Untuk anak usia 6-12 tahun, sebisa mungkin dorong ia untuk aktif bergerak di luar dan di dalam rumah, serta ajak anak untuk membuat makanannya sendiri, supaya ia lebih paham akan pentingnya sumber makanan yang sehat.

 

Masuk usia praremaja, sekitar 13-18 tahun, biasanya merupakan fase yang challenging untuk para orangtua, karena anak biasanya akan mulai membandel dan mencoba untuk berontak. Ia akan mulai “bandel”, misalnya dengan sengaja menentang anjuran Anda untuk tidak mengonsumsi junk food, atau berolahraga teratur. Jangan sampai “kalah” darinya, ya.

 

Tetaplah pada pendirian Anda; jangan biasakan memberikannya junk food, namun ajarkan ia untuk membuat dan mengonsumsi makanan dan camilan yang lebih sehat.   Ingatlah bahwa, orang tua memiliki peranan penting dalam mengendalikan berat badan seorang anak, dan memangkas risiko obesitas anak, karena secara sadar atau tidak, anak akan meniru tingkah laku orang tua, khususnya kebiasaan makan mereka. Jadilah panutan yang baik untuk anak, agar ia terhindar dari masalah-masalah kesehatan di kemudian hari, ya.

 

 

 

Salam,

KALBE Store